Peristiwa RMS (Republik Maluku Selatan)

Republik maluku selatan
Lambang RMS (sumber on slideshare)

RMS atau Republik Maluku Selatan adalah sebuah republik di kepulauan Maluku yang diproklamirkan di Ambon pada tanggal 25 April 1950 yang terlepas dari RIS (Republik Indonesia Serikat), dibawah pimpinan Dr. Soumokil, bekas jaksa Agung Negara Indonesia Timur.[1]Sebelum bergabung dengan RIS, Maluku merupakan provinsi dari NIT (Negara Indonesia Timur), yang memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 23 Desember 1946, yang wilayahnya terdiri Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Bali, selain itu, juga terdapat negara-negara lain seperti Negara Borneo, Negara pasundan dan sebagainya; masing-masing negara itu memiliki pemerintahan dan wilayahnya sendiri.[2]Hal ini terjadi karena ketika proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, wilayah negaranya hanya Jogjakarta sampai sebagian Distrik Jakarta. Hingga akhirnya Soekarno membentuk RIS (Republik Indonesia Serikat), dan pada 27 Desember 1949, dan semua negara-negara yang tadi sudah disebutkan sebelumnya bergabung dalam RIS.

Namun di dalam Konstitusi RIS berisi memberikan kesempatan kepada rakyat negara-negara bagian untuk menyatakan pendapatnya untuk dapat melepaskan diri dari RIS, sesuai konstitusi tersebut, berdasarkan hak sejarah dan sesuai ketentuan-ketentuan hukum Internasional, maka RMS memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 25 April 1950, serta RMS memiliki syarat yang sah sebagai sebuah negara, karena memiliki pemerintahan, memiliki wilayah, memiliki rakyat, memiliki Undang-undang Dasar dan perangkat hukum lainnya dan memiliki pengakuan internasional.[3]

Hal ini sesuai dengan kesaksian Hothari (Kepala Kehakiman RMS), dalam sidang di Pengadilan Kapten Hardjokusumo, mengenai pendapat saksi apakah pemerintah RMS sah atau tidak, Menurut saksi mungkin proklamasi itu dilakukan atas desakan rakyat, tetapi ternyata lambat laun rakyat menjadi pasif, karena ternyata RMS tidak dapat menjamin penghidupan rakyat dengan baik.[4]

Dengan mengesampingkan kesaksian Hothari tentang sikap rakyat yang lambat laun menjadi pasif, ditambah dengan Soekarno selaku presiden RIS yang baru memproklamasikan pembentukan NKRI, 3 bulan 20 hari setelah proklamasi pembentukan RMS, atau tepatnya pada tanggal 15 Agustus 1950, sehingga dapat diartikan bahwa Republik Maluku Selatan memang ada dan sah.

Oleh pemerintah NKRI, RMS dianggap gerakan separatis dengan tujuan agar lepas dari NKRI dan pemerintah segera bertindak dengan melancarkan agresi bersenjata, untuk menumpas RMS, namun Proklamasi RMS itu sudah disiapkan secara matang oleh Soumokil dan kawan-kawannya, diantaranya ia berhasil memindahkan pasukan KNIL dan pasukan baret hijau yang terlibat pemberontakan Andi Azis ke Ambon, pasukan-pasukan itulah yang menjadi tulang punggung perlawanan RMS.[5]
Seperti kesaksian Kapten Rusmono(Komandan Bat-512 jang bertugas di Seram)dalam persidangan Kapten Hardjokusumo, menerangkan bahwa ketika ia mendarat didaerah Seram, terdapat pasukan-pasukan RMS yang bersenjatakan panah, dan ditugaskan mencegat pasukan-pasukan TNI.Kapten Rusmono juga memberikan kesaksian, bahwa pengaruh RMS dikalangan rakyat tidak ada sama sekali. Hanya oleh karena ancaman-ancaman dari tentara RMS, maka rakyat terpaksa mengikuti semua apa yang dikatakan oleh orang-orang RMS.[6]

Pada tanggal 14 Juli 1950, pasukan ekspedisi APRIS/TNI mendarat di Laha, Pulau Buru; dengan susah payah karena belum mengenal medannya, APRIS berhasil merebut pos-pos penting di pulau Buru, setelah pulau Buru dapat dikuasai, pasukan APRIS bergerak menuju Seram, karena RMS ternyata memusatkan kekuatan pasukannya di pulau Seram dan Ambon di Maluku Tengah; Setelah Seram dapat dikuasai, gerakan selanjutnya diarahkan ke Ambon; Pada permulaan bulan November kota Ambon dapat dikuasai oleh pasukan-pasukan APRIS setelah melalui pertempuran-pertempuran yang sengit dengan korban yang besar[7]

Kekalahan di Ambon berujung pada ditahannya pemimpin-pemimpin RMS dan diadili di pengadilan jogja, serta pengungsian pemerintahan RMS dari pulau-pulau tersebut dan mendirikan pemerintahan dalam pengasingan di Belanda, tahun berikutnya, 12.000 tentara Maluku bersama keluarganya berangkat ke Belanda dan mendirikan pemerintahan dalam pengasingan "Republik Maluku Selatan" wikipedia.[8] Bahkan ketika konflik yang terjadi di Maluku sekitar tahun 1999, antara umat agam Islam dan Kristen, Pemerintah menduga bahwa ada simpatisan RMS yang masih tersisa di maluku yang ikut andil dalam memicu pertikaian tersebut. Hal ini diketahui ketika aparat keamanan setempat menemukan dokumen yang berisi skenario RMS untuk mempengaruhi tokoh masyarakat dan tokoh agama serta masyarakat Maluku dan dunia Internasional untuk mendukung gerakan mereka yaitu mewujudkan negara RMS terpisah dari NKRI.[9]

Entah benar atau cuman provokasi dari pemerintah agar masyarakat maluku membenci RMS, tetapi yang pasti perdamaian harus tetaplah dijaga. Salah satu upaya yang pemerintah lakukan untuk meredam konflik yang terjadi di maluku, serta agar tidak muncul lagi gerakan separatisme seperti RMS, maka pemerintah memprakarsai pertemuan dua komunitas, islam dan kristen, yang diselenggarakan di luar maluku, tepatnya di Malino, dibawah koordinasi Menko Kesra Yusuf Kalla, yang disebut kesepakatan malino II,yang salah satu isinya yaitu “Segala bentuk organisasi, satuan, kelompok atau laskar yang bersenjata tanpa izin di Maluku, dilarang dan harus menyerahkan senjata atau dilucuti dan diambil tindakan sesuai payung hukum yang berlaku. Bagi pihak-pihak luar yang mengacaukan maluku, wajib meninggalkan Maluku” dan “Membentuk tim Investigasi independen nasional untuk mengusut peristiwa 19 januari 1999, FKM, RMS, Kristen RMS, Laskar Jihad, Laskar Kristus, pengalihan agama secara paksa dan pelanggaran HAM dan lain-lain sebgainya, demi tegaknya hukum.[10]


[1] Ginandjar Kartasasmita, dkk, 30 tahun indonesia merdeka 1950-1964, (Jakarta: PT Jayakarta Agung Offset, 1981), h. 38 
[2] Samuel Waileruny, Membongkar Konspirasi Dibalik Konflik Maluku, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor, 2010), h. 204 
[3] Ibid h. 204-205 
[4]Suara Merdeka, 02 April 1995 
[5] Ginandjar Kartasasmita, dkk, 30 tahun indonesia merdeka 1950-1964, (Jakarta: PT Jayakarta Agung Offset, 1981), h. 38 
[6]Suara Merdeka, 02 April 1995 
[7] Ginandjar Kartasasmita, dkk, 30 tahun indonesia merdeka 1950-1964, (Jakarta: PT Jayakarta Agung Offset, 1981), h. 38. 
[8]Wikipedia Bahasa Indonesia, Republik Maluku Selatan, diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Republik_Maluku_Selatan, pada 16 mei 2017 pukul 12.00. 
[9] Widjdan Hamam, dkk, Sejarah TNI AD 1974-2004, (Jakarta: Dinas pembinaan Mental Angkatan Darat, 2005), h. 195-196. 
[10]Widjdan Hamam, dkk, Sejarah TNI AD 1974-2004, (Jakarta: Dinas pembinaan Mental Angkatan Darat, 2005), h. 201-102.

(Oleh: Agung Dwi Atmojo)


EmoticonEmoticon