Jakarta “Membara” Protes Insiden Trisakti

Trisakti Di Jakarta
Arsip Surat Kabar Suara Merdeka
Pada foto dokumentasi penerbit, tampak kobaran api dan aparat yang siaga menyisir lokasi sekitar, hal ini di karenakan adanya bentuk protes publik atas terjadinya insiden penembakan 6 mahasiswa Universitas Trisakti pada tanggal 13 Mei kemarin. Kebrutalan aparat pemerintah memicu amukan massa yang sebelumnya sudah mengalami ketegangan. Massa yang tidak tahan dengan kepemimpinan Soeharto lebih memilih berontak demi tercapainya reformasi pemerintahan.

Akibatnya, banyak terjadi pembakaran kendaraan mobil dan gedung bertingkat dan penjarahan yang tidak pandang bulu, tidak hanya itu pom bensin dan pos polisi pun ikut di bakar. Tidak sedikit korban jiwa yang berjatuhan lantaran terjebak didalam gedung bertingkat yang di bakar, dan banyak pula warga sipil yang merasa dirugikan lantaran mobil dan gedungnya yang di bakar massa. Maraknya diskriminasi terhadap warga etis cina memperparah kerusuhan mei ini. Tidak sedikit warga etnis cina yang kembali ke Negara nya secara permanen dan tidak kembali lagi lantaran takut terkena imbas keamarahan massa demonstran.

Selain itu pada foto dokumentasi penerbit, tampak foto Megawati yang mengunjungi Universitas Trisakti untuk menyampaikan bela sungkawa atas terjadinya penembakan yang menewaskan beberapa mahasiswa Universitas Trisakti. Di samping foto Megawati yang di kelilingi pers, ada foto mayat mahasiswa yang tewas saat melakukan demonstrasi.

Krisis yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997-1998 diawali dengan menurunnya nilai rupiah terhadap $US dollar, dimana $1 US dollar pernah setara dengan Rp. 14.000,00 dengan nilai sebelumnya yaitu bisa setara dengan Rp. 2.600,00. Krisis yang membuat runyam perekonomian Indonesia ini, karena fundamental ekonomi tidak di bangun, karena uang negara di korup oleh penguasa. Seharusnya, dana hutang dari luar negeri itu masuk ke dalam kas negara. Akan tetapi, begitu hutang atau investasi itu datang, langsung di gunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan dan dana proyek itu di potong-potong dan di bagikan kepada oknum penguasa (TB, Nugroho, 99 : 2006)

Tragedi yang terjadi pada tanggal 13 dan 14 mei 1998 merupakan puncak dari semua kerusuhan yang terjadi di Indonesia. Kerusuhan menjadi marak setelah terjadinya penembakan yang menewaskan 6 mahasiswa yaitu Elang Mulya Lesamana, Hartarto, Hafidin Royani, Hendriawan, Vero Dan Alan, tidak hanya di Jakarta, tetapi di kota-kota besar lainnya seperti Solo,medan, palembang dan Jogja. Dan pada tanggal 14 Mei, merupakan kerusuhan yang dipicu oleh adanya protes warga mengenai kebrutalan aparat pemerintahan hingga menewaskan warga sipil. Pembunuhan massa demonstran ini di ekspose oleh media massa sehingga masyarakat dunia mengetahui dan memberikan perhatian dimana kemudian pemerintah Indonesia menjadi sorotan dunia karena aparat militernya telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) (TB, Nugroho, 88 : 2006 ).

Keterpurukan Soeharto diperparah dengan akan diadakannya people power yang akan dipimpin Amin Rais pada tanggal 20 Mei 1998 di Monas dan ternyata dibatalkan karena jalan-jalan yang menuju lapangan Monas telah dipenuhi oleh barikade kawat berduri dan kendaraan tempur ABRI serta pasukan bersenjata yang siap tembak terhadap massa yang memaksa masuk ke lapangan Monas. Meskipun gerakan people power di Jakarta di batalkan demi kemanan, gerakan people power di Yogyakarta berlangsung dengan damai dengan mengadakan ritual Pisowanan Ageng pada 20 Mei 1998. Gerakan massa secara besar-besaran ini dilakukan dengan damai dan dengan semakin terpuruknya Soeharto akhirnya reformasi pemerintah yang di harapkan massa dapat terwujud.


Sumber                                                           
          T. Barata Nugroho. 2006. Prahara Reformasi Mei 1998;Jejak-Jejak Kesaksian. Semarang : UPT UNNES Press. 
          Tim Editor. 2000. Titik Tolak Reformasi ; Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto. Gambiran : LKiS.
          Suara Merdeka. Jakarta "Membara" Protes Insiden Trisakti. Kamis, 14 Mei 1998.

(Oleh: Sindi Safitri)


EmoticonEmoticon