Roeslan Abdulgani Sang Politikus

Roeslan Abdulgani Sang Politikus
Roeslan Abdulgani
Dr. H. Roeslan Abdulgani lahir di Surabaya, 24 November 1914, dan sudah berusia 90 tahun (24 November 2004) Karunia Tuhan. Ayahnya saudagar, punya toko di jalan besar, ibunya guru agama. Pendeknya, dia dari keluarga berada. Roeslan sekolah di HBS (SMA) dan Europese Kweekschool (Sekolah Guru). Sebagai pelajar, dia sudahmenjadi anggota Indonesia Muda (Rosihan Anwar, 2012).

Roeslan akrab dipanggil Cak Roes yang pernah menjabat Rektor IKIP Bandung (Sekarang UPI Bandung). Saat muda dulu Cak Roes pernah menjadi angota Jong Islamieten Bond dan Indonesia Muda, saat itu Indonesia Muda adalah organisasi yang dianggap berbahaya bagi pemerintah Hindia Belanda, pada saat sekolah di Europese Kweekschool ia dikeluarkan dari karena ketahuan menjadi anggota Indonesia Muda.

Roeslan adalah juru bahasa Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang berunding dengan tentara Inggris yang baru mendarat. Dia kenal dengan Brigadir Jendral Mallaby yang kelak tewas. Pertempuran besar meledak pada tanggal 10 November 1945 yang kemudian ia terpaksa menyingkir ke Malang untuk bekerja di Kementrian Penerangan dan diangkat menjadi Sekertaris Jendral Kementrian Penerangan yang berkedudukan di Yogyakarta pada saat itu. Setelah penyerahan kedaulatan ia ikut pindah ke Jakarta dan pernah menjabat sebagai Sekertaris Jendral Departemen Luar Negeri pada tahun 1954-1956 yang tidak lama kemudian menjadi Sekertaris Jendral Konferensi Asia-Afrika di bandung pada tahun 1955. Setelah jabatan menteri Luar Negeri pada kabinet Ali Sastromidjojo II, ia menjadi Menteri Penerangan pada tahun 1962-1966 dan menjadi Rektor pertama IKIP Bandung yang sekarang menjadi UPI Bandung pada tahun 1964-1966. Setelah Soeharto menjadi Presiden, Roeslan Abdulgani dipercaya sebagai Duta Besar RI di Persrikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1967-1971.

Menurut Rosihan Anwar dalam bukunya  Sejarah Kecil Petite Historie Indonesia Jilid 5 pada awal tahun 1951 Presiden Sukarno mengadakan kunjungan kenegaraan ke Filipina atas undangan Presiden Elpidio Quirino, ia berpidato mengenai kolonialisme untuk menunjukan kekejaman kolonilaisme, Sukarno memegang tangan Roeslan dan mengangkat tangannya shingga publik melihat Roeslan kehilangan tiga jari tangan kananya yang disebabkan pada saat Belanda melancarkan agresi militer kedua tanggal 19 Desember 1948, Roeslan sedang menaiki sepeda ke kantornya terkena tembakan mitraliur pesawat terbang Belanda dekat Kali Code yang menyebabkan tangannya luka dan beberapa jari harus terpaksa di potong.

Pada tanggal 25 Juli 1966 dibentuknya Kabinet Ampera. Roeslan diangkat sebagai Kepala Perwakilan RI di PBB, New York dan bersamaan dengan itu Soedjatmoko menjadi Duta Besar RI di Washington. Sukarno memerintahkan RI untuk keluar dari PBB, Januari 1965 tetapi pada tanggal 26 September 1966 Indonesia kembali bergabung dengan PBB dan menjadi juru bicara Manipolusdek. 

Di Belanda terbit beberapa buku yang menyoroti Roeslan dan buku yang menggemparkan adalah Villa Maarheeze (1998) oleh sejarawan Bob de Graaf dan politikolog Cees Wieberes. Mereka menulis Roeslan sebagai "Sumber yang amat dipercaya" yang digunakan spion jagoan Virgil, Letnan Intel J. Bakker yang pada aksi militer kedua di Yogyakarta yang hendak menembak Presiden Sukarno (Rosihan Anwar, 2012).

Pejuang kemerdekaan yang akrab dipanggil Cak Roes ini dirawat sejak hari Jumat dengan keluhan sesak napas dan penurunan kesadaran. Atas perintah Presiden Yudhoyono, ia dirawat tim dokter kepresidenan. Namun, kondisinya yang terus menerus turun hingga akhirnya wafat di Rumah Sakit pusat TNI Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta Pusat pada Rabu, 29 Juni 2005 pukul 10.20 dan meninggalkan seorang istri, lima anak, sepuluh cucu, dan enam cicit.

Riwayat Pendidikan

  • Pendidikan dasar (HIS) di Surabaya (1928)
  • Pendidikan Menengah (HBS) di Surabaya (1934)
  • Kursus Tata Buku A dan B (1938)
  • Pendidikan Notariat I dan II (1938-1942)
  • Gelar Guru Besar di IKIP Bandung (1963)
  • Hunter College, New York (1968)
  • Barnard College, New York (1969)
  • University of Columbia, Amerika Serikat (1970) 
Karier
  • Ketua Indonesia Moeda (1934)
  • Sekertaris Jendral Kementrian Penerangan RI (1947-1949)
  • Sekjen Deppen (1947-1954)
  • Sekjen Deplu (1954-1956)
  • Sekjen KAA, Bandung (1955)
  • Menteri Luar Negeri 91956-1957)
  • Wakil Ketua Dewan Nasional, Jakarta (1957-1959)
  • Wakil Ketua DPA (1959-1962) 
  • Wakil Ketua IV DPP PNI (1964) 
  • Menteri Koordinator, merangkap Menteri Penerangan (1962-1966) 
  • Anggota Presidium Kabinet (1965-1966)
  • Wakil Perdana Menteri (1966-1967) 
  • Dubes RI di PBB, New York (1967-1971) 
  • Kepala BP7 Pusat (1978- 1992) 


Sumber                                                      
         Anwar, Rosihan. 2012. Sejarah Kecil (Pertite Historie) Indonesia Jilid 5 Sang Pelopor Tokoh-tokoh Sepanjang Perjalanan Bangsa. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
        "Cak Roes Menutup Mata", Liputan 6, 29 Juni 2005.
        "Roes Abdulgani", Wikipedia, 24 Maret 2017.

2 komentar

Trimakasih, dan saling mendoakan yang terbaik untuk beliau.


EmoticonEmoticon